Cerita ini ditulis oleh Adriana (Focal Point Safeguarding | Stimulant Institute | Kantor Sumba)
Saya datang ke Morotai untuk memfasilitasi pelatihan Safeguarding bagi staf dan mitra Program KREASI. Saya pulang bukan hanya sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai peserta yang belajar tentang diri saya sendiri, tentang cara saya berinteraksi dengan orang lain, dan tentang betapa rapuhnya asumsi bahwa niat baik selalu cukup untuk menjamin sebuah tindakan aman.
Salah satu momen paling berkesan dalam pelatihan ini adalah saat kami membahas satu prinsip sederhana namun mengguncang: niat baik belum tentu aman. Ungkapan ini, dipadukan dengan pesan think before you act, mengubah cara saya memandang setiap interaksi sehari-hari.
Selama ini saya berpikir bahwa selama maksud saya baik, membantu, dan tidak bermaksud menyakiti, maka tindakan saya otomatis aman bagi orang lain. Pelatihan ini menyadarkan saya bahwa keamanan sebuah tindakan tidak ditentukan oleh niat orang yang melakukannya, melainkan oleh bagaimana tindakan itu diterima dan dirasakan oleh orang yang menerimanya. Dua hal ini bisa sangat berbeda dan justru di ruang perbedaan itulah risiko sering muncul tanpa disadari.
Bekerja bersama staf dan mitra KREASI di Morotai membuat saya semakin menyadari betapa beragamnya latar belakang budaya, suku, kebiasaan, dan gaya komunikasi setiap orang yang terlibat dalam program ini.
“Bagi saya, sebuah candaan atau ungkapan mungkin terasa biasa dan tidak bermaksud menyinggung. Namun, bagi orang dengan latar belakang yang berbeda, hal tersebut bisa saja dimaknai sebagai sesuatu yang kurang sopan, kasar, atau bahkan membuat tidak nyaman,” tegas Adriana.
Dari sini saya belajar bahwa apa yang dianggap wajar dalam satu lingkungan tidak serta-merta memiliki makna yang sama di lingkungan lain. Safeguarding, bagi saya, kemudian menjadi lebih dari sekadar seperangkat aturan; ia menjadi cara berpikir yang menuntut kepekaan terhadap konteks dan penghormatan terhadap keberagaman cara orang mengalami dunia.
Dari Pemahaman ke Perubahan Sikap
Pembelajaran ini mendorong saya pada satu perubahan konkret dalam cara saya bersikap: lebih berhati-hati dalam memilih kata, lebih sadar dalam menjaga sikap, dan lebih terbiasa mempertimbangkan dampak dari sebuah tindakan sebelum saya melakukannya bukan hanya mempertimbangkan maksud di baliknya.
Think before you act kini bukan sekadar pesan yang saya sampaikan dalam sesi pelatihan, melainkan jeda yang saya coba hadirkan dalam keseharian saya sendiri: sebelum berbicara atau bertindak, saya belajar berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri; apakah ini aman? apakah ini menghargai orang lain? dan apakah ada dampak yang mungkin tidak saya sadari?
Menjaga Orang Lain, Menjaga Diri Sendiri
Pada akhirnya, pelatihan Safeguarding di Morotai mengajarkan saya sesuatu yang melampaui teknis fasilitasi. Ia mengajarkan bahwa menjaga orang lain dimulai dari menjaga cara kita berpikir, bersikap, berkomunikasi, dan memperlakukan sesame dengan lebih sensitif, lebih peka konteks, dan penuh penghargaan terhadap perbedaan.
"Saya datang untuk berbagi pengetahuan, tetapi pulang membawa pembelajaran yang jauh lebih besar: bahwa menjaga keselamatan orang lain adalah proses belajar yang tidak pernah selesai, dan itu dimulai dari kesediaan untuk terus mendengar, merefleksikan diri, dan berubah," tutur Adriana menutup diskusi. (PSI/Red)