Komitmen memperkuat mutu pendidikan di Kabupaten Sumba Barat kembali ditegaskan melalui Pertemuan Ekosistem Pendidikan yang diselenggarakan pada Kamis, 18 Juni 2026, di Aula Rumah Belajar Sumba (RBS). Pertemuan ini mempertemukan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (DPKO) bersama delapan mitra pembangunan di bidang pendidikan dan literasi untuk menyelaraskan program, berbagi informasi, dan menyepakati langkah bersama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
Sebanyak 22 peserta yang terdiri dari perwakilan DPKO, INOVASI, Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI), Yayasan Bahtera, Bali Children Foundation, Save the Children, Perkumpulan Stimulant Institute, dan Terang Sumba (Yayasan Barokah) mengikuti forum koordinasi ini. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memastikan setiap program saling melengkapi, tepat sasaran, dan memberikan dampak yang lebih besar bagi peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Sumba Barat.
Dalam sambutannya, Sekretaris DPKO Kabupaten Sumba Barat, Tity Apriani L. Lay, S.E., mengapresiasi kontribusi seluruh mitra pembangunan yang selama ini mendukung penguatan ekosistem pendidikan. Ia menegaskan bahwa setiap program perlu menghasilkan dampak yang nyata dan terukur, terutama dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik. Di tengah keterbatasan anggaran daerah, kolaborasi dengan berbagai mitra menjadi dukungan penting bagi pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Pertemuan yang difasilitasi oleh Kepala Bidang SD DPKO, David Moto Lele, S.Pd., M.Pd., berfokus pada pembahasan capaian Rapor Pendidikan Kabupaten Sumba Barat tahun 2025. Data menunjukkan adanya tren positif, di mana capaian literasi meningkat menjadi 38,27 persen, naik 9,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, capaian numerasi tercatat sebesar 34,11 persen, dan kualitas pembelajaran mencapai 63,14 persen.
Peserta juga mengidentifikasi praktik baik dari sekolah-sekolah di Kecamatan Wanukaka yang secara konsisten berada pada kategori hijau untuk indikator literasi, numerasi, dan kualitas pembelajaran. Pengalaman tersebut akan didorong untuk dibagikan melalui forum Kelompok Kerja Guru (KKG) agar dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain.
Meski menunjukkan peningkatan, capaian literasi dan numerasi Kabupaten Sumba Barat masih belum mencapai kategori hijau. Karena itu, seluruh anggota Ekosistem Pendidikan sepakat memfokuskan intervensi pada 10 sekolah dasar dengan capaian literasi dan numerasi terendah melalui pendampingan yang lebih terkoordinasi. Pelaksanaan program dan perkembangan sekolah sasaran akan dipantau serta dievaluasi secara berkala melalui pertemuan bulanan Ekosistem Pendidikan sebagai bagian dari upaya bersama untuk mewujudkan peningkatan mutu pendidikan yang lebih terarah, kolaboratif, dan berkelanjutan di Kabupaten Sumba Barat. (PSI/Education/AL).